RAMPAGOE.NEWS. JAKARTA-Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kesepakatan damai terbaru dengan Iran memicu kegaduhan besar di Capitol Hill. Di bawah tekanan hebat dari politisi lintas partai yang mencium adanya ketidakberesan, Trump akhirnya memberikan sinyal siap membongkar rincian dokumen kesepakatan misterius tersebut kepada Kongres AS.
Isu ini memanas di sela-sela KTT G7 2026 di Prancis. Saat bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Trump dengan nada menantang sekaligus berkelakar menyatakan tidak takut untuk menyerahkan memorandum perjanjian itu ke meja legislatif.
“Yang ingin saya lakukan adalah mengirimkannya ke Kongres dan mengatakan, ‘Anda tidak boleh menyetujuinya.’ Dan mereka pasti akan menyetujuinya,” cetus Trump dengan gaya khasnya.
Dicurigai Lintas Partai
Namun, candaan Trump tidak membuat atmosfer di Washington mendingin. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mengaku pihaknya sama sekali belum menerima cetak biru resmi terkait isi kesepakatan. Di kubu oposisi, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer langsung mendesak transparansi total sebelum pemerintah melangkah terlalu jauh.
“Rakyat Amerika berhak tahu kesepakatan gelap apa yang dijanjikan Trump kepada Iran, dan apa untungnya bagi Amerika Serikat,” tegas Schumer berapi-api.
Kecurigaan ini beralasan karena dokumen lengkap gencatan senjata 60 hari tersebut masih disembunyikan dari publik. Trump baru berjanji akan membuka “kartunya” secara utuh saat penandatanganan resmi di Jenewa pada Jumat mendatang.
Bahkan, sekutu dekat Trump di Partai Republik seperti Senator Lindsey Graham dan Senator Thom Tillis juga mulai pasang badan. Mereka menuntut hak voting di Kongres agar perjanjian ini tidak menjadi “kesepakatan sepihak” yang rapuh dan bisa dibatalkan dengan mudah oleh pemerintahan berikutnya.
Isu Dana Fantastis Rp4.800 Triliun
Situasi semakin memanas setelah beredar rumor liar bahwa AS akan mengucurkan bantuan rekonstruksi bernilai fantastis, yakni US$300 miliar (sekitar Rp4.800 triliun), serta mencairkan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Khawatir isu ini menjadi bola liar yang merusak citranya, Trump langsung meradang dan mengecap laporan tersebut sebagai “fake news” (berita palsu). Wakil Presiden JD Vance juga buru-buru membantah kabar burung yang menyebut Iran bakal menerima kucuran aset beku hingga US$24 miliar.
Meski diterpa badai kritik, Vance mengklaim kesepakatan ini tetap membawa keuntungan besar karena berhasil memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz untuk jalur minyak dunia dan berkomitmen menghentikan ambisi senjata nuklirnya. Namun, bagi kubu Demokrat seperti Senator Richard Blumenthal, klaim sepihak pemerintah ini patut dipertanyakan sebelum seluruh dokumen dibuka secara transparan kepada publik.










