Rampagoe.News. Keamanan daycare di Indonesia masih berdiri di atas fondasi yang rapuh, karena terlalu banyak pihak yang merasa “cukup” padahal standar dasarnya saja belum terpenuhi. Banyak tempat penitipan anak beroperasi tanpa izin jelas, tanpa pengasuh yang benar-benar terlatih, dan tanpa sistem pengawasan yang transparan. Ironisnya, semua itu sering baru disadari setelah kejadian buruk terjadi. hal ini kalau serius ingin memperbaiki, berhenti dengan pendekatan kosmetik. Yang dibutuhkan adalah evaluasi menyeluruh yang menyentuh tiga titik krusial: negara, pengelola, dan orang tua.
Pertama, legalitas bukan formalitas. Tempat penitipan anak yang tidak memiliki izin resmi pada dasarnya sedang beroperasi di luar radar negara. Artinya, tidak ada standar yang bisa dipaksa, tidak ada kontrol yang benar-benar berjalan. Membiarkan ini terjadi sama saja dengan menitipkan anak pada sistem yang tidak punya akuntabilitas.
Kedua, kualitas pengasuh adalah titik paling rawan—dan paling sering diabaikan. Banyak kasus kekerasan bukan karena niat jahat sejak awal, tapi karena ketidakmampuan mengelola stres, emosi, dan tekanan kerja. Kalau pengasuh tidak diseleksi secara serius—baik dari sisi kompetensi maupun kesehatan mental—maka yang kita lakukan sebenarnya adalah mengambil risiko yang tidak terlihat.
Ketiga, teknologi pengawasan sering dijadikan ilusi keamanan. CCTV dipasang, tapi tidak transparan. Orang tua merasa aman, padahal yang terlihat hanya sebagian kecil dari realitas. Kalau akses tidak terbuka dan menyeluruh, maka itu bukan sistem pengawasan—itu hanya dekorasi.
Keempat, pemerintah daerah sering hadir hanya saat seremonial, bukan saat dibutuhkan. Tanpa inspeksi rutin yang serius dan sanksi yang benar-benar ditegakkan, aturan hanya akan jadi dokumen mati. Dan pelaku yang lalai akan terus merasa aman.
Terakhir, orang tua sendiri sering tidak sadar bahwa mereka adalah garis pertahanan terakhir. Banyak yang mengabaikan tanda-tanda perubahan perilaku anak, menerima alasan yang tidak masuk akal, atau terlalu cepat percaya karena “tempatnya terlihat bagus.” Padahal, keamanan anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke pihak lain tanpa kontrol.


















