RAMPAGOE.NEWS. KYIV — Eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina kembali mencapai titik didih yang mengerikan. Alih-alih melunak, Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone besar-besaran yang mengubah langit ibu kota Ukraina, Kyiv, menjadi hujan api. Serangan brutal sepanjang malam ini menewaskan sedikitnya 11 orang di seluruh negeri dan memicu gelombang kemarahan global setelah situs suci bersejarah ikut hangus terbakar.
Warga Kyiv terpaksa berlarian dalam kepanikan luar biasa mencari tempat perlindungan bawah tanah saat sirene udara melolong semalaman. Meskipun sistem pertahanan udara Ukraina berusaha mencegat proyektil Moskow, puing-puing rudal yang menyala tetap jatuh berhamburan dan meluluhlantakkan seisi kota. Di Kyiv sendiri, 5 orang dilaporkan tewas dan 34 lainnya luka-luka akibat insiden ini.
Tempat Suci UNESCO Jadi Korban
Sorotan dunia kini tertuju pada hancurnya kompleks biara Ortodoks kuno, Kyiv-Pechersk Lavra, yang merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO paling dihormati. Puing-puing serangan udara Rusia memicu kebakaran hebat di halaman kompleks tersebut hingga membakar habis atap Katedral Dormisi. Hangusnya simbol spiritual Ukraina ini memicu tuduhan bahwa Rusia sengaja menyasar identitas budaya dan keagamaan Kyiv.
Zelensky Menunggu di Tengah Saling Balas Serangan
Serangan masif ini diduga kuat merupakan aksi balas dendam Moskow. Pasalnya, dalam beberapa minggu terakhir, Ukraina juga secara agresif meningkatkan serangan udaranya ke wilayah dalam Rusia. Bahkan, serangan drone Ukraina terbaru dilaporkan berhasil menembus Kota Tula—sekitar 200 kilometer dari Moskow—dan menewaskan tiga orang di sana.
Ironisnya, pertumpahan darah ini terjadi di saat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sedang mengajukan proposal perdamaian. Zelensky mengaku saat ini dirinya masih digantung dan menunggu kepastian dari Kremlin terkait tawarannya untuk bertemu langsung dengan Vladimir Putin di Amerika Serikat. Namun, melihat Kyiv yang justru “diguyur” rudal, Moskow tampaknya lebih memilih berbicara lewat jalur kekerasan ketimbang meja diplomasi.










